 |
| ULASAN TOPIK |
| |
 |
| MOTIVATOR
|
|
|
|
20/06/2008 10:20
Beberapa kandidat Capres terlihat meramaikan layar kaca belakangan ini, bukan karena main film atau sinetron, melainkan mereka mengiklankan diri untuk memperkenalkan dirinya kepada masyarakat. Fenomena ini mendapat reaksi keras dari beberapa pakar, ada yang mengatakan itu bagian dari komunikasi politik, ada juga yang mengatakan pembodohan untuk rakyat, dan ada pula yang mengatakan iklan terebut tidak memperhatikan masyarakat yang lagi kesusahan. Jujur saja kenyataan di masyarakat, pada dasarnya masyarakat tidak banyak mengomentari soal ini, karena itu dianggap bagian dari acar televisi yang setiap hari ditontonnya.
20/06/2008 10:16
Naik, naik ke puncak gunung
Tinggi, tinggi sekali
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon stroberi
Jalan-jalan di mana, anak yag menyanyikan lagu di atas dengan mengubah kata akhir? Sangat besar kemungkinannya anak itu berjalan-jalan di Vin's Berry Park. Oh, di Singapura? Tidak, sama sekali tidak di Singapura. Kalau begitu di Amerika atau Eropa. Kan pohonnya stroberi. Tidak, tidak juga di Amerika atau di Eropa. Mau tahu? Letaknya di Desa Jambudipa, kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Ya, di Indonesia, tidak di luar negeri.
Usaha Vin's Berry cafe, terletak di jalan Patuha, Bandung. Jangan kaget, kalau di rumah makan itu Anda dapat memesan menu yang berbahan baku stroberi. Lebih baik Anda coba untuk memesannya dan menikmatinya. Kalau belum pernah.
Kecuali orang dapat membeli stroberi, kini orang juga dapat membeli dan menikmati hasil olahan stroberi menjadi sirup, es krim, selai dan yoghurt.
* * * * *
20/06/2008 10:15
Musim kampanye sebentar lagi sudah digelar. Partai tampak sudah sibuk mempersiapkan diri menyongsong perhelatan tersebut. Di tengah euforia ini sebagian masyarakat justru menunjukan sikap apriori. Memang, dalam beberapa pilkada misalnya, terjadi penurunan tingkat partisipasi masyarakat. Bukan rahasia lagi, ini tentunya berkaitan dengan citra buruk yang disandang partai politik dan merosotnya kepercayaan terhadap elite politik.
Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat, Jierry Sumampow menyebutkan hal tersebut merupakan persoalan yang mencuat belakangan. Kata dia, problem sekarang karena partai politik sebagai sebuah kanal rekrutmen pemipmin gagal. Ada banyak kekuarangan yang membuat publik tidak percaya. Ada banyak hal yang dilakukan partai yang tidak mampu membangkitkan optimisme masyarakat tentang pentingnya demokrasi atau tenang pentingnya partai politik sehingga ynag muncul semacam sikap apatis.
Angket BLBI Kandas
20/06/2008 10:14
Rapat Paripurna DPR pada (10/6) yang salah satunya mengagendakan penyelesaian Kasus BLBI, melalui lobi-lobi fraksi berakhir sepakat membentuk tim pengawas penyelesaian kasus BLBI, meski Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) satu-satunya fraksi yang tetap memilih hak angket dalam kasus ini.
Usul hak angket BLBI sebagai lanjutan interpelasi BLBI berakhir anti klimaks. Fraksi-fraksi besar di parlemen yang semula ngotot pada rapat paripurna minggu kemarin justru menolak ikut menyetujui hak konstitusional dewan untuk melakukan investigasi itu. Melalui lobi yang cukup alot menghasilkan kesepakatan tim pengawas.
20/06/2008 10:13
Ada beberapa simpulan yang sangat menarik dari kebiasaan Affandi melukis. Pertama mengenai obyek potret diri, yang paling sering digambar. Dalam anggapan dan penilaiannya, dirinya yang dilihat dan dilukis adalah sosok wajah yang selalu berubah. Perubahan itu sesuai dengan situasi eksternal yang memengaruhi kehidupannya, cara berpikirnya, dan tentu saja reaksi yang memantulkan sikapnya.
Kedua, Affandi lebih memilih melukis di luar ruang, bukan di studio seperti kebanyakan pelukis generasi berikutnya. Ia sering membiarkan dirinya ditonton oleh banyak orang saat melukis. Seolah ia hendak menyatu dengan alam: di pingggir jalan, di tepi laut, di pekarangan, di bawah terik surya atau dalam siraman gerimis. Dalam melukis, tubuh dan kausnya selalu berlepotan cat minyak (berbeda dengan Ahmad Sadali, si pelukis subuh, yang saat melukis pun berpakaian rapi). Sementara Affandi bagai tak sabar dalam melukis, ada semacam tuntutan ekstase yang menginginkan warna dari cat mengalir melalui jari-jemarinya. Untuk menyampaikan ekspresinya itu, Affandi meninggalkan peralatan lukis (kuas dan palet) yang dianggapnya menghambat semburan hasratnya.
20/06/2008 10:12
Masalah bangsa, pluralitas, dan kepemimpinan nasional menjadi pembicaraan yang tak habis-habis di ruang publik. Lalu bagaimana masalah tersebut dalam pandangan generasi muda, yang terindikasi apriori terhadap persoalan tersebut?
Belum lama ini Setara Institute mencoba menjawabnya melalui suatu survei di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang dengan mengambil responden generasi muda. Survei mengambil sampel 800 responden yang dipilih secara acak sistematik generasi muda berusia 17 hingga 20 tahun. Dalam sistem pemilu Indonesia, usia tersebut dikategorikan sebagai pemilih pemula.
Dari hasil survei terungkap bahwa mayoritas kaum muda menganggap pancasila sebagai dasar terbaik praktek bernegara. Meskipun begitu, sebagian ada yang meyakini bahwa agama tertentu merupakan dasar terbaik bernegara dan dapat membawa kemajuan.
|
|
Jajak Pendapat Menurut Anda apakah UU Rahasia Negara diperlukan? |
|
|
|
|
|
|
EDITORIAL
|
 |
|
|
|
20/06/2008 10:21
Sebuah langkah maju telah ditunjukkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dengan mengejutkan lembaga itu melakukan inspeksi mendadak (sidak) kesebuah institusi yang selama ini diindikasi sebagai sarang korupsi atau suap. Dalam inspeksi mendadak (sidak) di Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Tanjung Priok, ditemukan sejumlah uang yang diduga hasil suap senilai hampir setengah miliar rupiah.
Selama ini kantor Bea dan Cukai termasuk institusi paling korup. Berbagai hasil survey menunjukkan hal itu. Pada awal 2007, survei Transparency International Indonesia (TII) menempatkan instansi Bea dan Cukai sebagai instansi terkorup bersama dengan Kepolisian Republik Indonesia.
|
|
|